No comments yet

PMI Rentan Terpapar Ekstrimisme, Infest Rancang Strategi Kampanye Pencegahan

Institute for Education Development, social, religious, and cultural studies (Infest) Yogyakarta merancang strategi kampanye pencegahan ekstrimisme di kalangan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Sebagai salah satu lembaga yang cukup lama terlibat dalam kerja-kerja perlindungan PMI, Infest memiliki kepedulian atas banyaknya PMI yang dikabarkan terpapar ekstrimisme, serta sejumlah penelitian yang mengungkap fenomena tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan Infest untuk mencegah ekstrimisme di kalangan PMI adalah melakukan kampanye pencegahan.

Dalam proses perumusan konten kampanye, Infest Yogyakarta melibatkan beberapa pakar baik dari unsur pemerintah maupun organisasi masyarakat sipil melalui “Workshop Kick Off Program: Penyusunan Strategi Pencegahan Ekstremisme di Kalangan Pekerja Migran Indonesia di Luar Negeri pada periode Pra- Penempatan dan Penempatan.” Acara yang diselenggarakan di Hotel Jayakarta, pada Jumat-Minggu (7-9/9/2018) ini terlaksana atas kerjasama Infest Yogyakarta dan UN Women. Para narasumber sekaligus peserta aktif terdiri dari perwakilan Direktorat Perlidungan Warga Negara Indonesia (PWNI) dan Bantuan Hukum Indonesia (BHI) Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) RI, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, Yayasan Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Yayasan Inklusif, Yayasan SatuDunia dan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI).

Menurut Direktur Eksekutif Infest Yogyakarta, Irsyadul Ibad (Ibad), kampanye melalui media merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari program “Penguatan Kapasitas Pekerja Migran dan Aktor Negara dalam Pencegahan Penyebaran Radikalisme dan Ideologi Kekerasan di Kalangan Pekerja Migran Indonesia”. Melalui media di beragam multi-platfom, Infest akan menyediakan konten-konten online dan sumber pengetahuan bagi PMI sebagai narasi tandingan atas membanjirnya konten-konten kebencian, hoaks, dan konten-konten negatif lainnya.

“Kegiatan ini akan menghasilkan konten media berupa artikel, video pendek, dan infografis yang akan lebih mudah dibaca dan dibagikan di media sosial. Selain itu, Infest juga mempersiapkan konten media kampanye dan draft modul pembekalan akhir pemberangkatan (PAP) yang akan digunakan oleh BNP2TKI/BP3TKI,” papar Ibad.

Upaya Bersama Cegah Ekstrimisme

Keterlibatan sejumlah pakar dalam workshop kick off program juga merupakan salah satu persiapan program untuk membangun kapasitas, kesepahaman dan rancangan strategi pencegahan ekstremisme. Selain itu juga untuk membangun komitmen bersama antara elemen masyarakat sipil, pemerintah dalam upaya pencegahan ekstrimisme di kalangan pekerja migran Indonesia.

Menggali pengalaman dan pembelajaran dari masing-masing lembaga sangat penting untuk memperkaya gagasan konten kampanye pencgahan radikalisme di kalangan PMI. Seperti pengalaman PWNI BHI Kemlu dalam melakukan serangkaian kegiatan penegahan ekstrimisme di kalangan PMI. Menurut Hernawan Baskoro Abdi (33), Head Section of Public Awareness Campaign PWNI BHI Kemlu, Pemerintah RI (Republik Indonesia, red).

Suasana diskusi kelompok tentang peran masing-masing lembaga dalam pencegahan ekstrimisme di kalangan PMI. (Foto: Dokumentasi Infest Yogyakarta)

Di luar negeri, Pemerintah RI telah melakukan serangkaian kegiatan pencegahan ekstrimisme di kalangan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Menurut Hernawan Bagaskoro Abid (Hernawan, red), Head Section of Public Awareness Campaign, PWNI BHI Kemlu kegiatan-kegiatan positif dan pertemuan langsung atau kopi darat dapat dilakukan untuk mencegah PMI dari paham ekstrimisme. Kegiatan positif bagi PMI seperti olahraga, kuliner, bisnis, hobi, dan lain-lain. Harapannya, bagi PMI yang sudah terpapar, setidaknya pikiran tentang paham radikalisme yang sudah memengaruhi  perlahan berkurang.

“Jadi basis sosial harus kuat, sering-sering kopi darat, kemudian aktivitas positifnya diperbanyak.  Caranya bisa banyak, misalnya mengadakan acara yang bakal disukai banyak orang, mampu merangkul semua orang baik yang belum terpapar radikalisme atau sudah terpapar,” jelas Hernawan.

Hernawan juga menegaskan bahwa beragam kegiatan yang telah dilakukan Kemlu untuk memperkuat strategi agar PMI mau datang dan berkumpul. Meskipun tema kegiatannya tidak secara jelas menyebutkan pencegahan ekstrimisme, namun dalam pelaksanaannya tetap disuguhkan materi yang berhubungan dengan pencegahan ekstrimisme.

Selain pengalaman dan pembelajaran dari Kemlu, BNPT juga berbagi strategi pencegahan yang dilakukan di dalam negeri. Sementara AMAN Indonesia memiliki pengalaman dan jaringan perempuan perdamaian di sejumlah daerah yang melakukan kampanye perdamaian. Kajian-kajian tentang radikalisme juga dilakukan oleh Yayasan Rumah KitaB, salah satunya tentang keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme.

Di tingkat desa, Infest Yogyakarta juga memperkuat kapasitas PMI Purna dan Keluarga PMI berkolaborasi dengan Pemerintah Desa (Pemdes) dalam penanganan dan perlindungan PMI mulai dari desa hingga negara penempatan. Komunitas PMI tersebut di antaranya adalah Komunitas Pekerja Migran Indonesia (KOPI) di Kabupaten Blitar dan Ponorogo, serta Komunitas Komunikasi Organisasi Pekerja Migran Indonesia (KOMI) di Johor Bahru dan Serantau di Kuala Lumpur, Malaysia. []

Post a comment